KENAPA BUTUH TELEDERMATOLOGI? (SETIDAKNYA SAAT INI)

Sejujurnya, ego kronis ini bergejolak.

“Lesi kulit kan tiga dimensi. Bagaimana bisa ditangkap oleh layar dua dimensi?”

Pandemi yang belum terlihat ujungnya di Indonesia ini ternyata berdampak banget sih ke segala aspek kehidupan, ngga terkecuali praktik dokter spesialis kulit dan kelamin. Yang bikin resah pikiran akhir-akhir ini, sewaktu praktik minggu lalu, pasien yang datang ke poli kulit ternyata lansia dan anak. Keluhan kulit tidak ada yang emergency. Apakah praktek saya secara tatap muka membawa lebih banyak manfaat atau tidak buat pasien dalam situasi wabah seperti ini?

Sampai saat ini, physical distancing jadi salah satu senjata paling ampuh yang relatif mudah dan murah dalam mengatasi pandemi COVID-19. Physical distancing, yakni menjaga jarak secara fisik antar individu, dapat mencegah transmisi virus. Berdasarkan penelitian yang mengambil data dari awak kapal Diamond Princess, diperkirakan angka reproduktif (R0) dari COVID-19 adalah sebesar 2,28. Artinya? Satu individu positif COVID-19 diperkirakan dapat menginfeksi 2,28 individu lain di sekitarnya. Semakin besar angka R0 ini, akan semakin sulit megontrol sebuah pandemi. Apalagi 80% orang yang terinfeksi COVID-19 bisa ngga bergejala, adem ayem aja gitu. Makin susah ngga sih ngadepin musuh dalam selimut gini?

Tapi kali ini saya ga mau bahas kenapa harus physical distancing karena saya yakin banget udah banyak informasi tentang itu. Kali ini saya pengen nulis sedikit perspektif priibadi tentang apa yang bisa dilakukan oleh kerjaan semacam saya, yang mungkin saat ini bukan garda terdepan dalam menghadapi COVID-19.

Saya bersyukur banget di zaman teknologi saat ini, penjarakkan fisik terasa “lebih mudah” dan kita tetap bisa menjaga hubungan sosial. Text messages, video call, Instagram, Google Hangout, Zoom meeting. Banyak banget platform media sosial yang bisa dimanfaatkan secara efektif buat bertukar informasi. Tak terkecuali, berbagi informasi medis antara dokter-pasien melalui jarak jauh.

Online Dermatology - Telemedicine and the Digital Medium - The ER of the Future.jpeg

Telemedicine secara etimologi diartikan sebagai “healing at a distance”. Gemesyh gemesyh romantis ga sih dengernya? Kalau WHO mendefinisikannya sebagai pelaksanaan layanan kesehatan, ketika jarak menjadi faktor hambatan, menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk pertukaran informasi yang valid, demi kepentingan diagnosis, tata laksana, pencegahan penyakit, riset, evaluasi, dan pendidikan berkelanjutan para penyedia layanan kesehatan, semuanya dimaksudkan untuk peningkatan kesehatan individu dan komunitas. (Panjang ya boookkk…)

Berdasarkan data WHO, praktik telemedicine di dunia paling banyak dilakukan oleh sejawat radiologi, patologi, dermatologi, dan psikiatri. Ditambah lagi, data WHO tahun 2009 menunjukkan bahwa inisiator praktik keempat bidang telemedicine itu ternyata paling banyak dari Asia Tenggara, lho. Usut punya usut, kirain karena paling maju, tapi ternyata karena “keterpaksaan” akibat kelangkaan dokter atau tenaga medis di Asia Tenggara.

Sudah satu bulan nih sejak pertama kali ketemu kasus COVID-19 di Indonesia, tapi teledermatologi di praktik saya belum kesampaian 100%. Apa yang bikin ragu buat teledermatologi? Kalau saya pribadi sih karena doktrin yang terlanjur tertanam bahwa teledermatologi itu belum sepenuhnya halal. Kelainan kulit itu kan tiga dimensi, masa iya cuma dilihat dua dimensi. Belum lagi akurasi warna via foto, pake hape merk X sama pake hape merk Z belum tentu sama. Belum lagi angle foto dari berbagai posisi untuk satu kelainan kulit. Ribet ga sih? Udah ribet-ribet, belum tentu pula akurasinya terjaga.

Masalahnya, semua yang aku tulis di atas hanya opini belaka ya. Kalau opini, bahkan expert opinion aja, stratanya paling rendah dalam level evidence. Mending kita cari literatur aja tentang teledermatologi ini.
Telaah Literatur tentang Teledermatologi

Ada satu systematic review menarik yang membahas tentang aplikasi ponsel dalam teledermatologi. Tulisan tersebut ditulis Clark dkk. dan dipublikasi tahun 2018. Hasilnya? Ngga malu-maluin ternyata. Diagnostic concordance (kesamaan diagnosis yang dihasilkan antara konsultasi online vs tatap muka berkisar 80%-95%. Parameter lain untuk mengukur “kesamaan” diagnosis antara dua penilai adalah nilai Kappa. Nilai Kappa antara konsultasi online vs tatap muka dari berbagai penelitian dilaporkan antara 0,47-0,91 (moderate to substantial agreement, bahkan di atas 0,80 bisa dibilang almost perfect agreement).

Tentunya, banyak faktor yang memengaruhi hasil diagnosis dermatologis (dokter spesialis kulit dan kelamin) dari suatu konsultasi online. Clark dkk. menyatakan dalam review-nya, bahwa merk ponsel yang paling banyak digunakan dalam penelitian teledermatologi sebelum tahun 2013 adalah Nokia dan Sony. Sementara itu, di atas tahun 2013 adalah Samsung dan Apple.

Rerata resolusi kamera yang digunakan penelitian-penelitian dalam review ini adalah 7,9 MP. Rasanya ngga terlalu sulit buat nyari kamera ponsel resolusi segitu tahun 2020 gini. Ponsel harga 2 jutaan udah banyak yang resolusinya jauh di atas itu, bahkan ada yang sampe 48 MP.

Terus, masalah teknik pengambilan foto. Sebagian besar penelitian tersebut tidak memakai flash. Sebagian besar menggunakan auto-focus, meski ada pula yang memanfaatkan macro mode. Ada pula yang menyebutkan penggunaan latar belakang netral dan pencahayaan ruangan cukup. Rerata jumlah foto yang diambil adalah tiga. Barang kali hal ini dapat diterjemahkan bahwa dengan pengambilan jumlah foto lebih banyak dan dari berbagai angle akan membantu dokter menilai kelainan kulit secara tiga dimensi.

Dengan hasil review di atas, sepertinya Andrees dkk mencoba menelaah lagi, apakah dengan pemanfaatan live interactive video atau video call, dapat meningkatkan kualitas teledermatologi. Jadi, bukan sekedar lewat foto. Mereka baru-baru ini melaporkan di Journal of European Academy of Dermatology and Venereology tahun 2020, menyebutkan bahwa akurasi diagnosis konsultasi video online vs tatap muka dinilai cukup baik. Persentase kesepakatan diagnosis antara konsultasi online dan tatap muka langsung adalah 60%-80%. Sementara itu, ada pula penelitian yang menyatakan nilai Kappa 0,96 dan 0,85; yang berarti kesepakatan diagnosis hampir sempurna (almost perfect agreement).

Dengan berbagai keuntungan tersebut, sayangnya belum banyak pemanfaatan di bidang spesialis kulit dan kelamin di Indonesia. Padahal, dermatologi merupakan satu dari empat besar penggagas telemedicine. Apa sebab? Mungkin masih mencari platform yang tepat, the winning formula. Kaya cari jodoh kali ya.

Diperlukan platform yang bisa menjamin kerahasiaan pasien, mengirim dan menyimpan data secara stabil, mudah diakses dari seluruh pelosok negeri. Lalu, bukan cuma masalah hardware, tapi software yang dapat memandu pengambil foto agar foto yang dihasilkan “terstandard”. Barang kali ini merupakan peluang bagi kita mewujudkan hal tersebut dan mendapatkan jodoh yang tepat dalam hal teledermatologi. Sementara belum mendapatkan winning formula, dalam situasi sekarang, kira-kira kamu mau ngga berobat ke dokter spesialis kulit dengan konsultasi online?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s